Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2011

sahabat sejati

Pagi itu Efan merasakan sangat berbeda sekali dengan hari – hari yang lainya, entah kenapa seluruh jiwa dan raga Efan seolah – olah ada yang membisiki telinga Efan, dia terkejut hanya membuka matanya lebar – lebar melihat sofie, abdel dan rizky yang sedang asyik menikmati indahnya tidur. Efan beranjak bangun dari tempat tidurnya he...he...he...bangun – bangun udah subuh ni....??? tetapi sofie, abdel dan rizky bukanya langsung bangun dan mengambil air wudlu malah wajahnya mereka semua tertuju melihat Efan sambil kucek – kucek mata, Abdel bertanya kepada Efan, Fan tumben bisa bangun pagi – pagi...??Rizky dan Sofie menyaut, ah kayak ndak tau aja kamu, Efan kalau bisa bangun pagi – pagikan kalau sedang mimpi basah ha...ha...ha... sebuah bak bom molotov keluar dari mulut Rizky dan Sofie. Efan mengerutkan dahinya sambil duduk disebelah lemari, Efan tanpa mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Ia kaget atas ucapan tadi. Abdel beranjak berdiri " Maz Efan Aya naon atuh kang kok mlah tambah cemberut gitu Ooi"... sambil memegang pundaknya Efan seharusnya Ente tuh bersyukur sama ALLAH uah bisa bangun pagi – pagi seperti ini. Mendengar ucapan Abdel maka Efan tambah mengerutkan dahinya sambiltersenyum sepet. Ayo cepat ambl air wudlu ntar keburu habis lagi waktunya seru Efan sambil berdiri.
Setelah berwudlu sofie, Abdel dan Rizkyudah siap – siap untuk melaksanakan shalat subuh, manasih Efan lama banhget wudlunya seru Sofie, tak lama kemudian Efan muncul sambil membawa biore dan handuk, aku pinjam sarugnyalah, sarung aku kotor semua. Aah dasar kamu, tuu ambil aja di lemari, memang Efan orangnya agak pemalas jarang baanget nyuci pakaiannya sering – sering pakaiannya di londri terus, biasa Efan memang anaknya seorang konglo merat kirimanya aja satu bulan satu juta, dia di pondok boros banget belum aja ada satu bulan uangya udah habis. Terdengar qomat udah di komandangkanoleh muazin, ayo cepat kita ke masjid seru Rizky mereka berempat beranjak pergi meninggalkan kamaruntuk melaksanakan shalat subuh, kebetulan masjidnya nggak jauh dari compleknya.
Pukul 06.10 menit mereka berempat sudah bersiap-siap berangkat sekolah dengan pakaian yang sudah rapi dan super wangi, kebetulan efan berbeda dengan ketiga sahabatnya itu, lebih jauh efan dibandingkan sekolah ketiga sahabatnya efan harus melewati jalan raya, jalan kereta api dan lapangan sepak bola. Teman-teman...aku berangkat dulu ya."assalamu'alaikum" kata efan sambil mengangkat sepatunya yang ada dirak, "wa 'alaikum salam" ketiga sahabatnya itu menjawab. Hai fan jangan lupa ya salam buat cewek-cewek yang cantik ! kata sofie sambil melambaikan tangannya, yang ntar gampang lah kalau aku sempet. Efan bukan nya langsung kesekolahan, malah mampir dulu kewarung makan kebetulan warungnya tidak jauh dari pondok. Langsung duduk aja efan "mbok maem...!!. efan dengan lahapnya makan satu piring habis disambung dengan rokok super, terlalu nikmatnya efan menghisap satu bataang rokok kalau habis makan tanpa merokok seola-ola dia belum merasakan enaknya makan, terlalu nikmatnya dia berkali-kali menghisap rokok efan tidak tau kalau suadah jam 07.10 menit."Astaghfirullah hal 'adzim" aku dah terlambat niE...??? MBOK pinten niki maeme kale mendoan setunggal, rokoke setunggal, patangewu fan, seru mbok iyem. Niki mbok "kata efan sambil memberikan uangnya".aduh aku wes kawanen kie " dalam hati kecilnya efan" sambil keluar dari warung dan berlari secepat mungkin, kebetulan jam pertama pelajaran bahasa indonesia terlambat lima menit aja nggak boleh masuk, sesampai didepan sekolahan ternyata pintu gerbang sudah dikunci " aduh sial" seru efan, sambil mengoyang-goyangkan pintu gerbang agar pak guru/ bu guru yang mendengarnya, ternyata pak mulyaono melihat efan. Kenapa kamu terlambat...! udah jam berapa ini...? sambil membukakan pintu gerbang, maaf pak tadi aku makan dulu" seru efan" merengek belas kasih. Perut aja yang kamu urusin...! efan tertawa he..he. ya udah sekarang kamu saya hukum "kata pak guru" membaca koran dilapangan basket sampai jam pertama habis. Begitu terkejutnya efan mendengar ucapan pak guru. Nggak salah tu pak...?apanya yang salah justru kamu yang salah tapi.. tapi pak sambil mengerutkan dahinya, nggak ada tapi-tapian"kata pak guru".sambil menarik tangan efan kelapangan basket. Sudah kamu duduk dulu, pak guru ambilkan koran diperpus. " dasar guru tak punya hati " seru efan dalam hati kecilnya, tak lama kemudian pak guru keluar dari perpus membawa koran yang sudah dijilid ini korannya kamu baca sampai jam pertama habis! Seraya melempar senyum kepada efan.
Sungguh malangnya nasib efan pagi-pagi suadah membaca koran dilapangan basket, baru pertama kali efan terlambat masuk disuruh membaca koran efan hanya membuka perlembar koran yang tebalnya minta ampun, lama kelamaan efan bosan nungguin jam pertama habis dia meliaht sapu yang ada disamping pintu perpustakaan dan mengambilnya untuk menyapu lapangan basket" lumyan ni bisa tuk baring-baring seru efan, akhirnya efan terlelap tidur juga dilapangan basket dengan posisi tengkurap. Teng...teng..teng. lonceng berbunyi menunjukkan jam pertama habis efan masih terlelap tidur bersama koran dan sapu disampingnya tanpa mendengarkan lonceng telah berbunyi, teman-teman efan juga bingung ada pa tu anak? Semua temanya mentertawai efan..ha..ha..ha dasar tukang turuan, seketikanya efan reflek bangun dengan mata sipit penuh malu dan amarah seakan-akan harga diri efan dicorang-coreng ole seseorang. Dari kejadian tadi ternyata ada hikmahnya juga buat efan, dia jadi terkenal disekolahan cewek-cewek disekolahan nya dia gemes pada efan semakin GR lah efan, dia berubah draktis mulai dari cara berbicara, berpakaian, rambutnya,pokoknya super cool dech..!, seolah-olah dia jadi pangeran kucing disekolahannya tiap harinya dia hanya menggombal sama cewek-cewek tanpa memperdulikan temanya.
Teman-teman sekamarnya juga heran lihat sikapnya efan yang hari-hari ini dia rajin banget nyuci pakaiannya, nyetrika baju dan mandi juga kadang-kadang sehari ncuman dua kali malah sehari kadang nggak mandi hanya cuci muka dengan sabun andalannya "BIORE", sekarang malah mandinya malah sehari tiga kali, kayaknya sudah menjadi hukum wajib bagi efan teman-teman kamarnya bertannya kepada efan. "Aya naon atuh kok rajin banget.....heh kalian tuh pada sadar nggak sih, kita tu di pondok harus rajin kalau nggak mulai dari sekarang kapan lagi coba....!!! seru efan, sambil mengajung-acungkan tangannya "waduh...dikamar kita sudah ada pak ustadz baru ni....!!! seru rizky sofie dan abdel mentertawai efan ha...ha...ha...! udahlah... kalian jangan ngedek, pusing aku lihat kalian mulai sekarang kita urus diri kita sendiri-sendiri seru efan dengan nada yang tinggi dan melempar asbak rokok di dekat mereka seraya keluar dari kamarnya. Ketiga temannya hanya bisa diam mengerutkan dahinya. " udahlah...!!! kalian jangan diambil hati apa yang di katakan efan tadi seru sofie sambil memegang kedua pundaknya, mungkin ada faktor sesuatu yang membuat sikapnya berubah. Kita sebagai temannya harus selalu tidak bosan- bosan menasehatinya, abdel dan rizky hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Suasana kamar mereka menjadi penuh dengan keangkuhan, kesombongan dan lantunan-lantunan kata yang nggak enak di dengar dari mulut efan. Semenjak kejadian itu efan mersa tidak mempunya teman,dan dikucilkan oleh mereka, setiap minggunya efan mendapat surat dari wanita-wanita yang mengaguminya hingga dia bosan membacanya, " aduh aku bisa gila wadon nich....kalau dapat surat terus, dalam benak pikiran efan" sambil mengusap- usapkan kepalanya, masya ALLAH efan, Ente kenapa.wajah kamu muram begitu, seru sofie yang baru saja keluar dari kamar mandi efan tak bangak berkata dia langsung memeluk sofie seraya menangis. Ada apa ni tanya sofie, sofie aku minta maaf apa yang udah aku lakuin sama kalian. Lepaslah pelukanmu kayak bertahun-tahun aja nggak pernah bertemu. Ya udah....!!! sekarang cerita aja apa masalah kamu. Ucap sofie,efan lantas duduk, aku lagi nggak seneg dan sebel sama mereka " grutu efan atas kedekatan sofie." Sebel....!!! lho kok....??? sebel sama siap sich kok bisa sampai begitu," tanya sofie penasaran. " itu lihat semuanya!!! Seraya menunjuk setumpuk surat bermacam-macam yang berserakan di samping rak buku."yang ini dari lisa mba'nya janwar" sofie lantas membuka kertas berlahan-lahan







Dear efan di buy suci
Hai pangeran, kembang kehidupanku... lagi ngapain ???
Maaf sebelumnya, aku bingung mau manggil kamu apa. Karena tak ada yang layak di jadikan sebutan untuk memanggilmu kamu tarlalu cakep dari itu semua. Efan jangan bilang aku sok romantis yach, aku memeng romantis abiz sich, he he,,,. Tanya aja semua bocah bocah komplek F kalau kamu ga percaya !
Langsung aja aku pernah ketemu kamu secara ngga' sengaja pas kamu keluar pondok, temanku juga bilang kamu adalah santri Sumatra. Selanjutnya suwer aku tidak bisa nglupain wajah kamu semenjak kita bertemu, efan siang dan malam aku selalu memimpikan kamu.makannya dengan seluruh kenakatan ku kirimkan sepucuk surat ini karena (aku mengagumimu) met ultah yach….. kunanti cintamu
Dari lissa imoet

Selesai membaca sosfie tertawa sampai bahunya berguncang-guncang kencang. " korban sinetron nich anak, gombal dan norak abiz, efan yang mendengar komentar sofie cuman menarik nafas panjang. " bayangin sof.....hai pangeranku terlalu cakep, siang malam mimpiin aku, gombal bangetkan tu berarti siang malam kerjaan dia cuman tidur, dan ngayalin orang, " ujar efan. Sofie semakin tretawa mendengar komentar efan terus kamu lihat yang ini sof ucap efan sambil menyodorkan kertas yang berwarna pink.

Assalamu 'alaikum wr wb
Dengan datangnya surat ini saya ingin memberitahukan bahwa aku telah lama mengagumimu, semakin aku simpan perasaan ini aku makin menyimpan bahwa aku mencintaimu.maka dari itu aku ingin kamu jadi pacarku ! .
Mohon dengan sangat untuk di jawab secepatnya. Oh ya selamat ulang tahun.

Wassalamu 'alaikum wr wb
Dari ku yang mengagumimu

Siti maharani

:"ini surat cinta apa surat izin ngga' masuk sekolah sich, padahal anaknya cakep loh, " ujar efan sambil cengengesan. Sofie yang tepat di samping efan cuman diam mendengar komentar barusan.
Setelah sofi selesai membaca surat, abdel dan rizki datang dari sampang membeli kaos mereka berdua heran"loh kalian kok udah baikan." Efan mendekati abdel dan rizky. Maafin aku yach !!! selama ini apa yang udah aku lakuin sama kalian, yang jelas kami maafin lah berarti hari ini kita baikan donk, kata rizky makasich yach, seru efan makannya kamu tuh kalau lagi naik daun jangan seenaknya sendiri donk tanpa memperdulikan teman, komentar abdel, yah......sekali lagi aku minta maaf. Yach kalian memang sahabat sejatiku yang selama ini belum pernah aku temuin. Makasih ...........

By : @den
»»  baca selengkapnya...

Sabtu, 23 April 2011

cerpen ( santri g' nyambung)

SANTRI NGAK YAMBUNG

DI suatu hari yang cerah aku duduk termenung karena menikmat i indahnya cuaca pagi,udar yang segar dan sinagatkan cuaca pagi di sertai dengan kicauan burung yng begitu asik terbang kian kemari mencari makan sehingga semuanya membuatku tertegun dan hamper saja membuatku membuat dalam lamunan yang seketika mengingatkan aku pada masa waktu di pesantren baik manis dan pahitnya ketika di pesantren.
Dimana di suatu desa di kecamatan pelawan- singkut telah berdiri sebuah pesantren yang cukup besar dan terekenal di kecamatan itu. Pesantren tersebut di dirikan pada tahun 1989 yang di asuh oleh yang mempunya santri kurang lebih sebanyak 500 santri pada saat itu. Jumlah 500 santri yang meliputi dari keseluruhan santri yang ada. Baik putra maupun putrinya, yang mana peraturan di pesantren ini sangat ketat dan di siplin sekali. Ketika aku di masukan di pesantren ini yang letaknya lumayan jauh bagiku. Perjalan dari rumahku ke pesantren kalu di tempuh dengan naik motor menghabiskan waktu satu setengah jam perjalan, tapi kalu naik mobil kurang lebih kira kira dua jam setengah perjalan. Ketika aku di masukan pesantren ini aku sangat kaget dan merasa malu ketika menghadapi pak kyai dan para temen temen santri yang sudah lama disitu. Maklumlah namanya ja santri baru tentu butuh proses dalam masa pengenalan untukbisa saling mengenal dan beradap tasi di lingkungan pesantren. Pada awalnya aku merasa tidak betah karena merasa di cuekin sama temen temen mungkin karena aku orangnya pendiam atau karena sikapku sendiri yang membuat temen temen seperti itu, terkadang pula yang membuatku tidak betah karena ingat orang tua yang sudah berpisah jaraknya aku di pesantren sedangkan beliau di rumah.
Proses ini terus aku lalui dari waktu ke waktu, hari kehari dan bahkan berbulan bulan selama aku masih di sana seiring berlalunya waktu aku sudah mulai bisa menyesuaikan diri dan mendapat tanggapan yang baik dari teman-teman,ustadz,maupun pak kyai,sehingga aku semakin dekat dengan pak kyai maupun semua ustadz di situ, tapi aku hanya mempunyai sedikit dari beberapa temen yang lain sangat akrab dan dekat denganku. Yang menurut orng yang lebih baik untuk di jadikan temen dalam motifasi belajar.
Setelah dua tahun aku di situ dan sudah kelas tigas MTS akhirnya juga lulus, dan meneruskan aliyah juga disitu. Selama aku di pondok dengan keakrabanku sama pak ustadz dan pak kyai sehingga banyak dari temen temen yang merasaa iri atas kedekatanku dengan semua ustad dan pak kyai.lama-kelamaan aku juga menjadi ajudan pk kyai.ajudan adalaha orang yang paling dekat dengan pak kiyai atua yang menjadi tangan kanan pk kyai.aku jarang sekali dikamar,jd jarang ada waktu untuk kumpul sama teman-teman,setiap harinya aku selalu di panggil untuk berada di rumah pk kyai kamil,hingga membuat sebagian teman iri hati padaku,mereka sering mengejek dan menghinaku,mengatakan aku tidak pantas jadi ajudan pk kiyai.pak kiyai selalu menyuruh kesana- sini,jd waktu istirahat bagiku sangat sedikit dan jarang sekali.beliau juga orangnya keras dan kadang membuatku takut,tapi beliau kadang ramah,lembut,lucu,dan sebagainya.semuanya ada pada pk kyai.pernah beliau menyuruh ku mengambil sesuatu tapi sebelumnya beliau memang orang jawa asli sedangkan aku sendiri asli Sumatra,sehingga kadang beliau menyuruhku dengan memakai bahasa jawa dan membuatku kebingungan,sehingga terjadi dialog antara kami.
Beliau berkata
Pak kyai:”kang pendetaken agemane abah sing warna ireng teng lemari”tapi dari kata-katany yang sedikit ku mengerti dan dapat kucerna adalah warna ireng yang artinya warna hitam,kemudian tanpa membantah aku langsung kebelakang dan aku lihat ada plastic yang warna hitam yang juga nyantel dekat lemari,kemudian langsung kuambil plasti itu dank u bawa kedepan sambil berkata!
Adi(aku):ini bah, yang abah minta…….
Pk kyai:beliau tersenyum,namun kemudian wajahnya menjadi geram dan marah,lalu sambil menjewer kupingku beliau berkata:kamu paham nagak yang saya perintah,sana balik lagi kebelakang Tanya sama bu nyai!aku gemetar ketakutan dan tanpa berkata ataupun membantah aku langsung ke belakang dan langsung bertanya sama bu nyai/istrinya abah.
Adi:bu’ apa yang dimaksudkan abah tadi?beliau menyuruhku mengambil sesuatu tapi yang dikit ku tua dia bilang warna hitam ada lemarinhya karna abah mau pergi pengajian.bu’ nyai yang kebetulan mendengar apa yang abah bilang waktu itu langsung tertawa ter pigkal-pingkal…ha…ha…ha…lalu bu nyai berkata
Bu’ nyai:maksudnya itu ambilkan jas hitam dilemari….
Ketika itu aku langsung tertawa begitupun bu nyai juga ikut tertawa kembali….ha….ha….haa…he…he…he….
»»  baca selengkapnya...

Selasa, 19 April 2011

sang primadonaa

Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.

Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.

Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.

Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.

Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.

Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, "Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup."

Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.

Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.

"Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!"

"Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang."

"Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim."

Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.

Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.

Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.

Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.

Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.

Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.

Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.

Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-- memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.

Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.

Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.

Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.

Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.

Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa, Bu?"

"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.
"Ini barang berbahaya, Bu," sahutnya khawatir, "Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!"
"Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.

Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.

Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-- idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!***
»»  baca selengkapnya...

pradilan rakyat

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***
»»  baca selengkapnya...