Tampilkan postingan dengan label KMPA ighopala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KMPA ighopala. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

SEJARAH PECINTA ALAM

Jika saja kita mau melihat ke masa lalu sebetulnya sejarah manusia erat hubungannya dengan alam. Sejak zaman prasejarah dimana manusia masih berburu dan mengumpulkan makanan (meramu), alam adalah tempat tinggal mereka, tempat mereka bergantung dan hidup. Jajaran pegunungan adalah tempat mereka bersandar, lembah padang rumput merupakan tempat mereka berbaring, sungai adalah tempat mereka melepaskan dahaga, dan goa-goa adalah tempat mereka berlindung dari sengatan matahari dan terpaan hujan. Akan tetapi setelah manusia menemukan kebudayaan dan teknologi, alam menjadi seperti barang aneh dan selalu di eksploitasi. Manusia mulai mendirikan bangunan untuk mereka berlindung, manusia mulai menciptakan barang-barang untuk mendapatkan kemudahan dalam hidup mereka walau mereka tak menyadari barang-barang tersebut dapat mencemari alam. Manusia juga menciptakan gedung-gedung bertingkat untuk mengangkat kepala mereka dan menonjolkan keegoisan mereka, hingga pada akhirnya manusia dan alam mengukir sejarahnya sendiri-sendiri. Ketika keduanya bersatu dan saling menghormati kembali, maka saat itulah Sejarah Pecinta Alam dimulai:
Pada sekitar tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m) di kawasan Vercors Massif. Waktu itu belumlah terlalu jelas apakah mereka ini tergolong sebagai para pendaki gunung yang pertama. Namun beberapa dekade kemudian orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois (sejenis kambing gunung). Mungkin saja mereka ini para pemburu yang mendaki gunung, namun inilah pendakian gunung tertua yang pernah dicatat dalam sejarah. Pada sekitar tahun 1786 puncak gunung tertinggi pertama yang dapat dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m) di Perancis. Lalu pada tahun 1852 puncak Everest setinggi 8840 meter diketemukan. Orang-orang Nepal menyebutnya Sagarmatha atau menurut orang Tibet menyebutnya Chomolungma. Puncak Everest berhasil dicapai manusia pada tahun 1953 melalui kerjasama Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris. Sejak saat itulah pendakian ke atap-atap dunia semakin ramai.
Di Indonesia sendiri sejarah pendakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstensz menemukan “Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju” di Papua. Nama orang Eropa ini dikemudian hari digunakan untuk salah satu gunung di gugusan Pegunungan Jaya Wijaya yaitu Puncak Carstensz. Pada tanggal 18 Oktober 1953 di Indonesia berdiri sebuah perkumpulan yang diberi nama “Perkumpulan Pentjinta Alam” (PPA). PPA merupakan perkumpulan hobby yang dimaksudkan sebagai suatu kegemaran positif terlepas dari sifat maniak yang semata-mata ingin melepaskan nafsunya dalam corak negatif. Perkumpulan ini bertujuan mengisi kemerdekaan dengan kecintaan terhadap negeri ini selepas masa revolusi yang diwujudkan dengan mencintai alamnya serta memperluas dan mempertinggi rasa cinta terhadap alam seisinya dalam kalangan anggotanya dan masyarakat umumnya. Awibowo, salah satu pendiri perkumpulan ini mengusulkan istilah pecinta alam karena cinta lebih dalam maknanya daripada gemar/suka yang mengandung makna eksploitasi belaka, tapi cinta mengandung makna mengabdi.”Bukankah kita dituntut untuk mengabdi kepada negeri ini ?.” Satu kegiatan besar yang pernah diadakan PPA adalah pameran tahun 1954 dalam rangka ulang tahun kota Jogja, mereka membuat taman dan memamerkan foto kegiatan. Mereka juga sempat merenovasi Argodumilah (tempat melihat pemandang di desa Patuk) tepat di jalan masuk Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta. PPA juga sempat menerbitkan majalah “Pecintja Alam” yang terbit bulanan. Namun sayang perkumpulan ini tidak berumur lama, penyebabnya antara lain faktor pergolakan politik dan suasana yang belum terlalu mendukung hingga akhirnya pada tahun 1960 PPA dibubarkan.
Sejarah pecinta alam kampus di Indonesia dimula pada era tahun 1960-1970 an. Pada saat itu kegiatan politik praktis mahasiswa dibatasi dengan dikeluarkannya SK 028/3/1978 tentang Pembekuan Total Kegiatan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa yang melahirkan Konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Gagasan mula-mula pendirian Pecinta Alam kampus dikemukakan oleh Soe Hok Gie pada suatu sore, 8 Nopember 1964 ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah bekerja bakti di TMP Kalibata. Sebetulnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan Soe Hok Gie sendiri, diilhami oleh organisasi pecinta alam yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak Gunung Pangrango. Organisasi yang bernama Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi itu keanggotaannya tidak hanya terbatas di kalangan mahasiswa saja. Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah melalui seleksi yang ketat, namun sayangnya organisasi ini mati pada usianya yang kedua. Setelah berbincang – bincang selama kurang lebih satu jam semua yang hadir antara lain : Soe Hok Gie, Maulana, Koy Gandasuteja, Ratnaesih (kemudian menjadi Ny. Maulana), Edhi Wuryantoro, Asminur Sofyan Udin, D armatin Suryadi, Judi Hidayat Sutarnadi, Wahjono, Endang Puspita, Rahayu,Sutiarti (kemudian menjadi Ny. Judi Hidayat) sepakat untuk membicarakan gagasan tadi pada keesokan harinya di FSUI.
Pada pertemuan kedua yang diadakan di Unit III bawah gedung FSUI Rawamangun, di depan ruang perpustakaan. Hadir pada saat itu semua yang sudah disebut ditambah Herman O. Lantang yang saat itu menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Pada saat itu dicetuskan nama organisasi yang akan lahir itu
IMPALA singkatan dari Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam. Setelah pendapat ditampung akhirnya diputuskan nama organisasi yang akan lahir itu IMPALA. Kemudian pembicaraan dilanjutkan dengan membahas kapan dan dimana IMPALA akan diresmikan. Akan tetapi setelah bertukar pikiran dengan Pembantu Dekan III bidang Mahalum yaitu Drs. Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata juga menaruh minat terhadap organisasi tersebut dan menyarankan agar merubah nama IMPALA menjadi MAPALA PRAJNAPARAMITA. Nama ini diberikan oleh Bpk. Moendardjito karena menggangap nama IMPALA terlalu borjuis. MAPALA merupakan singkatan dari Mahasiswa Pecinta Alam, selain itu MAPALA juga memiliki arti berbuah atau berhasil. Dan PRAJNAPARAMITA berarti dewi pengetahuan. Jadi dengan menggunakan nama ini diharapkan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh anggotanya akan selalu berhasil berkat perlindungan dewi pengetahuan. Ide pencetusan pada saat itu memang didasari oleh faktor politis selain dari hobi individual pengikutnya, dimaksudkan juga untuk mewadahi para mahasiswa yang sudah muak dengan organisasi mahasiswa lain yang sangat berbau politik dan perkembangannya mempunyai iklim yang tidak sedap dalam hubungannya antar organisasi. Sampai akhirnya diresmikanlah organisasi ini pada tanggal 11 desember 1964 dengan peserta mencapai lebih dari 30 orang.
Dalam tulisannya di Bara Eka (13 Maret 1966), Soe Hok Gie mengatakan bahwa, “Tujuan Mapala ini adalah mencoba untuk membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, tanah air, rakyat dan almamaternya. Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang tidak percaya bahwa patriotisme dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan jendela-jendela mobil. Mereka percaya bahwa dengan mengenal rakyat dan tanah air Indonesia secara menyeluruh barulah seseorang dapat menjadi patriot-patriot yang baik.” Para mahasiswa itu diawali dengan berdirinya Mapala Universitas Indonesia, mencoba menghargai dan menghormati alam dengan menapaki alam mulai dari lautan hingga ke puncak-puncak gunung. Mencoba mencari makna akan hidup yang sebenarnya dan mencoba membuat sejarah bahwa manusia dan alam sekitar mempunyai kaitan yang erat. Sejak saat itulah Pecinta Alam merasuk tak hanya di kampus melainkan ke sekolah-sekolah, ke bilik-bilik rumah ibadah, lorong-lorong bahkan ke dalam jiwa-jiwa bebas yang merindukan pelukan sang alam.
Hakekat Pecinta Alam
Pecinta Alam adalah orang yang menghargai alam ini dengan cara menjaganya. Pecinta alam bukan sekedar orang yang bisa/mampu mendaki tingginya gunung, menyelami dalamnya lautan, menyusuri panjangnya goa, mengarungi ganasnya jeram, atau kegiatan-kegiatan lain yang menurutku lebih cocok disebut adventure.
Pecinta alam lebih luas dari itu. Tidak harus bisa atau suka dengan kegiatan-kegiatan yang memacu adrenalin untuk menjadi seorang pecinta alam. Tapi, justru hanya dengan tindakan sepele kita bisa jauh mencintai alam. Hanya dengan tindakan sepele seperti membuang sampah pada tempatnya kita jauh lebih mencintai dan menghargai alam.
Membuang sampah pada tempatnya. Tindakan sepele yang justru mungkin sering dilanggar para "pecinta alam" ketika sedang memacu adrenalinnya di gunung, lautan, jeram, goa atau ketika berada di peradaban hiruk pikuk kota. Tindakan sepele yang justru tidak diperhatikan oleh para penjelajah bertopeng pecinta alam. Sungguh ironis. Ketika kita, dengan label seorang pecinta alam, dengan enaknya menikmati indahnya alam ini, tp kita justru melukai alam dengan meninggalkan potongan-potongan sampah yang tidak bisa diurai oleh alam. Sungguh ironis ketika kita lebih bangga saat mampu mencapai puncak suatu gunung ketimbang ketika kita memungut sampah yang kita bawa.
Tanpa bermaksud menggurui, alangkah bijaknya bila kita mulai memperhatikan saudara kita yang selama ini kita lukai. Yaitu alam. Sebelum dia pada akhirnya dia habis kesabaran sehingga marah kepada kita. Mulai dari diri kita. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
»»  baca selengkapnya...

SEKILAS TENTANG ILMU CAVING

A. ENDOKARST
Endokarst adalah fenomena yang dapat dilihat dibawah permukaan, pada lorong-lorong goa di bawah permukaan.
Ada tiga macam yang dapat dilihat dibawah permukaan:
1. Air terjun
2. Danau dan kolam
3. Ornament (speleothem)
Ada beberapa macam ornament goa:
a. Stalaktit
b. Stalakmit
c. Straw
d. Dringking straw
e. Helictit
f. Helicmit
g. Canopy
h. Pilar
i. Draperies
j. Bacon draperies
k. Gourdam
l. Mutiara goa

B. PEMINTAKATAN GUA dan FAUNA GUA
Berdasarkan atas intensitas cahaya, marfologi gua, dan kedalamannya, gua dibagi menjadi empat mintakat (zona):
• Zona terang
Adapun fauna yang biasanya hidup di zona ini adlah: beruang, ular.
• Zona senja
Adapun fauna yang biasanya hidup di zona ini adlah: kalilawar.
• Zona peralihan
Adapun fauna yang biasanya hidup di zona ini adalah: kalilawar.
• Zona gelap
Adapun yang biasa hidup di zona ini adlah : jangkrik gua
• Zona gelap abadi

C. PAMETAAN GUA
1. Definisi
• Suatu gambaran proyeksi dua dimensi dengan skala lebih kecil, dari suatu bidang tiga dimensi yang mempunyai batas-batas tertentu .
• Suatu gambaran proyeksi dengan skala lebih kecil dari suatu gua
2. Mamfaat peta gua
• Merupakan bukti otentik bagi penelusur gua, sebagai penelusur /tim yang pertama kali menelusuri gua tersebut.
• Membantu para ahli dalam mempelajari biospeleologi, hidrologi, ataupun ilmu-ilmu lainnya yang berkaitan dengan spleologi.
• Untuk mencari kprelasi dengan gua-gua sekitarnya.
• Untuk memudahkan dalam sesuatu pertolongan/rescue.
• Dibidang priwisata untuk memudahkan/menentukan perencanaan dalam pengembangan gua sebagai obyek wisata.
• Sebagai data rekaman keaadaan gua saat itu (dikasih fhoto).
3. Peralatan yang digunakan dalam pemetaan gua
• Kompas (alat untuk mengetahui berapa derajat perbedaan arah lorong/jalan terhadap arah utara.
• CLINOMETER (suatu alat untuk mengetahui kemiringan bidang terhadap sumbu harisontal, dalam satuan darajat
• TOPOFIL (sebernya topofil ini mempunyai fungsi yang sama dengan pita ukur, tetapi tapofil ini bekerja atas dasar roda yang berputar menggerakan angka-angka dalam satuan sentimeter . berputarnya roda pada tapofil karena benang yang dililitkan dan ditarik.
• PITA UKUR (pita tersebut terbuat dari linen atau plat baja tipis.dan sekarang telah banyak di buat dari bahan fiber, dimana pita itu terdapat ukuran dalam satuan cm sampai mili meter.
• LEMBAR KERJA (dipergunakan untuk mencatat data yang diambil selama pametaan,
Station Passage Stationwall
Tape Kompas clino
Dari Ke Width Hight Kiri Kanan




4. TINGKATAN (GRADE) PEMETAAN
Sebagaimana peta yang lain, peta gua juga memiliki derajat ketelitian (grade) yang berbeda . tingkatan itun yang boleh BCRA (britiis cape research association) menjadi 6 tingkatan khusus. Pembagaian ini berdasarkan keakuratan pengukuran, teknik yang digunakan, dan peralatan yang digunakan.
Adapun pembagian tersebut:
Grade 1
Hanya membuat skeys dengan akurasi rendah, tampa membuat pengukuran.
Grade 2
Digunakan jika diperlukan, untuk menggambarkan perantaraan dalam akurasiantara grade 1 dan grade 3.
Grade 3
Surveymagnetik kasar. Sudut horizontal dan sudat vertical diukur dengan perralatan ,derajat kesalahan kurang-lebih 2,5 derajat. Alat ukur jarak dengan kesalahan kurang-lebih 50 cm, kesalahan posisi station kurang dari 50 cm.
Grade 4
Dapat digunakan jika diperlukan, untuk mengambarkan survey tidak sampai ke grade 5 tetapi lebih akurat dari pada grade 3.
Grade 5
Survey dengan alat magnetic. Akurasi sudut horizontal dan vertical kurang-lebih 1 derajat.akurasi pengukuran jarak kurang-lebih 10 cm, kesalahan posisistasiun kurang dari 10 cm.
Grade 6
Survey dilakukan dengan lebih akurat dari grade 5.
Grade x
Survey berdasarkan diutamakan menggunakan theodolite sebagai pengganti kompas.

Selain itu BCRA membuat klasifikasi tingkatan peta gua berdasarkan tingkat ketelitian detail survey
Klas A : semua detail dibuat berdasar hapalan luar kepala
Klas B : detail lorong di catat dalam gua berdasar perkirssn
Klas C : detail lorong di ukur pada station survey
Klas D : detail di ukur pada station survey dan antar station

Kombinasi grade dan klas:
Grade 3B/3C
Grade 5C/5D
Derajat pengukuran harus diusahakan sejak dua station pertama, karena kesalahan akan bersifat komulatif, makin jauh dari titk awal, semakin besar pula kesalahan yang timbul.

5. METODE/SISTEM PEMETAAN GUA
Ada dua metode pengukuran , yaitu:
a. Forward method
Dimana surveyor dan pencatat perjalan beruntutan (depan belakang) sampai station terakhir.
b. Leapfrog method
Survetor dan pencatat saling bergantian depan belakang( seperti lompat katak). Metode ini lebih teliti dari metode diatas.
Dan ada dua system pemetaan gua berdasar arah survey, yaitu:
1. Top to bottom
Pengukuran di mulai darientrance sampai ujung lorong / dasar dari gua atau samoai station akhir.
2. Bottom to top
Pengukuran dari ujung lorong /dasar gua sampai entrance. Jadi merupakan kebalikan dari system di atas.

6. LANGKAH-LANGKAH DALAM PEMBUATAN PETA
A. Pengumoulan data
Dalam suatu team pemetaan idiealnya terdiri dari 4 orang ,dengan pembagian tugas sebagai berikut:
1. Orang pertama : sebagai pembaca alat-alat ukur, membawa clinometers, kompas, dan meteran.
2. Orang kedua : sebagai station pengukuran membawa ujung meteran. Tinggi orang peryama dengan kedua harus sama dengan tujuan mendapatakan kerelitian dalam pengukuran elevasi (kemiringan lantai).
3. Orang ketiga : sebagai pencatat data pengukuran ,diskriptor untuk cross section (ilirisan lorong), dan sket perjalan.
4. Orang ke empat : sebagai leader penentu titik station maupun sebagai pemasang lintasan pada penelururan gua vertical.
Data yang diambil berupa:
1. Sudut clinometers : untuk mengetahui elevasi / sudut kemiringan lantai gua.
2. Sudut kompas : untuk mengetahui arah lorong dan arah utama kompas.
3. Jarak miring : jarak antara station pengukuran.
4. Jarak kiri-kanan : jarak kiri kanan dan station pengukuran.
5. Tinggi atap : tinggi atap pada setiap station pengukuran.
6. Cross section : penampang lorong gua.
7. Sketsa lorong : dibuat sesuai dengan arah kompas (diisi symbol-simbolkondisi gua , kondisi gua:ornament ,air, lumpur, dlln.
Beberapa metode pengukuran chamber:
• Polygon terbuka
• Polygon tertutup
• Offset
• Pothole

B. Penghitungan data
Untuk menghiteng data-data yang diambil dari lapangan, sudah ada table yang di dalamnya rumus-rumus yang akan dipergunakan.
1. Jarak datar (1)=cosinus clino x jarak miring (d)
2. Absis (x)= sinus kompas x jarak data (1)
3. Koordinat x (skema x)=penambahan absis terhadaf station sebelumnya
4. Kordinat (y)=cosines kompas x jarak datar 1
5. Koordinat sumbu y( skema y) penembahan ordinat terhadap station sebelumnya
6. Beda elevasi (h)=tangan clinox jarak datar(i)
7. Beda elevasi total(skema h)= penambahan beda elevasi terhadap station sebelumnya
Hal yang perlu dapat perhatian adalah penghitungan skema x, skema y,dan skema h. pada pecabangan lorong dan chamber.


C. Pengumpulan peta
Peta gua dapat digambarkan sebagai:
1. Plan section : peta gua tampak atas.
2. Extended : peta gua tampak samping tampa proyeksi
3. Projected : peta gua tampak samping, diproyeksikan dari plan section
4. . peta gua 3 dimensi
Tahap-tahap penggambaran peta gua:
1. Penentuan skala peta dan arah utara peta
2. Penentuan titik koordinat tiap station( system kordinat polear. Koordinat cartesius)
3. Penentuan jarak titik dinding kiri dan kanan tiap station dan tiap perubahan leber lorong
4. Mengubungkan titik dinding kiri dan kanan antar station
5. Memasukan symbol-simbol kondisi gua
6. Menggambar cross section
7. Kelengkapan peta
Kelengkapan peta
• Nama gua
• Grade peta
• Lokasi gua(administrasi, geografis, elevasi dpl)
• Arah utara peta
• Skala peta(grafis, fraksi)
• Waktu survey tggl.bln.thn.)
• Surviyor kelompok, anggota, acara.)
• Panjang dan kedalaman gua
• Fhoto-fhoto, dianjurkan


oleh dian permana. (thi-le)
Terimakasih……………

»»  baca selengkapnya...